Bagaimana Awal Mula Ilmu Santet atau Sihir?

sejarah ilmu santetSantet, teluh, tenung, guna-guna, lalu apa lagi istilah yang biasa digunakan untuk menyebutnya? Hampir semua orang apabila mendengar istilah-istilah tersebut pasti merinding bahkan mengucap amit-amit, jangan sampai kena yang begituan. Hem, kira-kira bagaimana sejarah ilmu santet dan awal mulanya ya hingga bisa digunakan orang-orang untuk mencederai orang lain, mencelakai orang yang dibenci dengan mengirim penyakit dan sebagainya?

Simak bahasan kami berikut hanya di sini.

Agama dan kepercayaan manapun sepakat bahwa menyakiti orang lain adalah tindakan yang tidak terpuji. Kami juga meyakini di Indonesia masih banyak orang baik. Lihat saja pemberitaan di media cetak dan elektronik mengenai pengeroyokan, penganiayaan hingga membunuh hidup-hidup oknum dukun yang ketahuan membuka praktik nyantet.

Sejarah Ilmu Santet

Santet sendiri bisa diartikan sebagai mengirim ‘sesuatu’ kepada seseorang dengan niat mencelakai, meyakiti dan membunuh melalui ilmu gaib. Terdapat berbagai macam media yang digunakan dalam mengirim ‘sesuatu’, yakni boneka, foto, kembang, paku, dupa, rambut hingga air liur target dan sebagainya.

Pada umumnya orang biasa tidak mampu mengirim santet. Hanya mereka yang memiliki kekuatan batin tinggi dan ilmu dalam dunia supranatural mumpuni yang mampu melakukannya. Oleh karena itulah, biasanya orang-orang menggunakan perantaraan dukun.

Untuk selanjutnya, kami akan menyebut sebagai oknum dukun. Karena pada dasarnya tidak semua dukun melakukan hal keji semacam ini.

Santet ternyata telah dikenal sejak jaman Nabi Sulaiman. Hal ini didukung dengan keterangan Al Quran surat yang menjelaskan bahwa ahli sihir sewaktu itu mampu memisahkan suami dan istri hingga mengirim sesuatu yang bersifat mudharat kepada orang lain.

Pada masa kerajaan nabi Sulaiman, setan-setan terbang ke atas langit pada suatu kedudukan tertentu. Mereka mencuri pendengaran dari malaikat dan membagikannya kepada tukang sihir atau santet.

Setan menambahkan 70 kalimat untuk setiap kalimat yang ia dengar. Setelah tukang santet itu mempercayainya, manusia yang datang kepada tukang santet tersebut pun mencatat hingga menjadikannya berbagai macam buku.

Hingga pada akhirnya buku-buku tersebut tersebar di kalangan Bani Israil dan terdengar oleh Nabi Sulaiman. Karena ketegasan dalam mengikuti aturan dari Tuhannya itulah, kemudian Sang Nabi menarik semua buku-buku, kemudian memasukkan dan menyimpannya ke dalam peti yang dikubur di bawah kursi singgasananya.

Setelah Nabi Sulaiman wafat hingga berganti ke generasi berikutnya, setan menjelma menjadi seorang manusia. Setan tadi menjumpai seseorang dan mengungkapkan sebuah ajakan , “Maukah kau ku tunjukkan sebuah perbendaharaan yang tak kan habis dimakan selama-lamanya?”

“Tentu saja kami mau”, jawab manusia tersebut. Dengan senyum picik manusia jelmaan setan meminta mereka untuk menggali peti di bawah singgasana raja Sulaiman.

Begitulah sejarah ilmu santet yang kemudian berkembang hingga sekarang. Buku-buku tersebut layaknya kamus atau buku panduan bagi para tukang sihir dan kemudian menyebar, bahkan berkembang ke seluruh penjuru dunia.

Ketika mendengarnya, orang cenderung menganggap santet sebagai ancaman atau teror nyata yang siap menerkam siapa saja. Hanya ada satu hal yang dapat menghindarkan Anda darinya, yakni kepercayaan kita kepada Sang Pencipta bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya.

1,541 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini