Sang Kembang Pengasihan, Bunga Cempaka Putih

Pernah nggak kalian melihat riasan pengantin Jawa? Bunga yang menggantung di ujung untaian ronce si pengantin wanita itu disebut bunga kantil. Atau kembang kantil, alias bunga cempaka putih. Bukan cuma wanginya yang membuat bunga cempaka dikenal luas. Tetapi juga karena lekatnya kembang kantil dengan manfaat pelet pengasihan.

 

Wujud bunga cempaka putih sebenarnya cukup sederhana. Warnanya putih, seperti namanya. Kembang beraroma khas ini sering dipakai dalam berbagai ritual dan upaya adat. Sebagai syarat, juga sebagai pelengkap.

 

Cempaka Putih (Kembang kantil) paling sering terlihat pada saat upacara pernikahan. Kuncupnya dijadikan ujung ronce, lalu disampirkan dekat dengan daun telinga si mempelai wanita. Beberapa orang meyakini bahwa, jika bisa mencuri bunga cempaka putih di ujung ronce ini, maka jodohnya bakal segera tiba.

 

Secara bahasa, nama ‘kantil’ artinya menempel. Lengket. Layaknya jodoh yang diharap bakal melekat erat. Penamaan ini mungkin lebih merujuk kepada khasiat spiritual bunga cempaka putih sebagai sarana pengasihan. Bukan semata merujuk kepada karakter fisik bunga itu sendiri.

 

Nyatanya, bukan cuma si bunga yang kemudian menjadi media asihan. Susuk pun ada yang dikenal dengan nama susuk kantil. Khasiatnya untuk pengasihan khusus, jadi hanya target-target tertentu yang dikejar. Meskipun memang, lama-lama susuk kantil dipakai juga oleh para pesohor dan biduan.

 

Bahkan di Bali, bunga cempaka putih konon dipercaya dapat mendeteksi keperawaan mempelai wanita. Bila ia ternyata bukan perawan lagi, maka kuncup bunganya akan mengembang. Terbuka dan tidak mengeluarkan aroma wangi seperti seharusnya.

 

Aroma wangi bunga kantil juga diyakini merupakan idaman para makhluk tak kasat mata. Makanya ia dijadikan pelengkap sesajen. Tujuannya adalah untuk memanggil kedatangan makhluk gaib tertentu.