Membongkar Ilmu Melipat Bumi Para Wali

ilmu melipat bumiIlmu melipat bumi adalah salah ilmu paling fenomenal di dunia supranatural. Dalam bahasa modern, ia disebut dengan teleportasi atau memperkecil ukuran bumi, baik dalam pandangan mata atau secara kenyataan. Hal ini dimaksudkan agar jarak tempuh dari satu tempat ke tempat lain bisa dijangkau dalam waktu yang lebih cepat.

Apakah Anda pernah mendengar kisah para wali dimana mereka sering melakukan sholat maghrib dengan di Mekkah, kemudian pada waktu isya’ mereka sudah kembali lagi ke Jawa. 

Konon, mereka menggunakan ilmu melipat bumi tersebut.

Kejadian semacam ini tentu saja tidak mustahil bagi para wali. Karena mereka telah mendapatkan karamah dari Tuhan Yang Maha Esa untuk kemudian dimanfaatkan bagi kebaikan banyak orang.

Satu contoh lagi dari salah seorang wali songo, yakni Sunan Bonang. Apabila beliau ingin mengumpulkan para wali guna membahas sebuah keperluan, maka beliau akan membunyikan bedug. Kemudian para wali yang tersebar di seluruh daerah Jawa akan berkumpul di tempat yang dijanjikan. Konon, mereka akan menggunakan ilmu lipat bumi agar cepat sampai di tempat pertemuan.

Apabila Anda mencoba untuk mencari informasi mengenai ilmu ini, maka akan ditemukan berbagai bukti yang menyatakan bahwa ini adalah ilmu yang sangat melekat dengan kepribadian wali.

Hingga tak salah, apabila seseorang yang benar-benar mampu melakukan teleportasi itu tergolong dalam level wali.

Gus Dur pun dikisahkan memiliki ilmu lipat bumi. Dikutip dari buku Bukti-bukti Gus Dur itu Wali yang merupakan karya dari Achmad Mukafi Niam dan Saifullah Amin, terdapat satu bagian dalam buku tersebut yang menyatakan keajaiban dari lipat bumi Gus Dur.

Kesaksian ini dituturkan oleh Nuruddin Hidayat yang sewaktu itu turut mengantarkan Gus Dur dalam sebuah perjalanan dari Garut ke Jakarta. Karena memiliki urusan mendadak, Gus Dur ingin cepat sampai di Jakarta kurang dari 3 jam.

Sejatinya, perjalanan yang melewati jalur puncak yang medannya berliku, naik dan turun serta sempit itu membutuhkan waktu hingga 5 jam. Tetapi, pada waktu itu Gus Dur hanya menunduk dan komat-kamit mungkin membaca wirid dan sebagainya, tiba-tiba perjalanan bisa dilalui dengan sangat lancar.

Yang paling membuat rombongan dalam satu mobil itu takjub adalah perjalanan hanya ditempuh dalam waktu 3 jam saja.

Apakah Ilmu Melipat Bumi Hanya untuk Wali?

Setelah membaca pengantar di atas, Anda mungkin merasa tertarik untuk mempelajari lebih banyak mengenai ilmu lipat bumi dan bahkan ingin menguasainya.

Tapi, pertanyaannya sekarang adalah, “apakah orang awam bisa menguasainya?”

Karena ilmu ini merupakan karamah dari Tuhan, artinya hanya orang-orang yang memiliki kedekatan khusus denganNya lah yang mampu untuk menguasainya.

Memang, pada jaman kerajaan dahulu telah berkembang berbagai ajian dengan segudang kelebihan yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan berperang. Bahkan, beberapa diantaranya sangat mirip dengan ilmu lipat bumi. Misalnya saja, ajian saifi angin, ajian kidang kuning dan asma gunting.

Dikutip dari Kamus Paranormal, ketiga ajian di atas adalah kemampuan untuk meningkatkan kecepatan seseorang ketika menempuh perjalanan. Ajian yang banyak dimiliki oleh kesatria perang jaman dahulu ini apabila diamalkan akan meringankan tubuh layaknya angin, sehingga waktu yang digunakan untuk menempuh sebuah tempat bisa dilakukan secara lebih cepat.

Dari penjelesan tersebut, kami menyimpulkan bahwa ilmu melipat bumi adalah sama dengan ajian-ajian di atas. Sehingga, manusia awam yang memang memiliki keteguhan diri dan ingin menguasai ilmu teleportasi ala kejawen bisa menempuhnya melalui tirakat.

Adapun tirakat yang harus Anda kerjakan memang tidak mudah. Hal ini dikarenakan manfaat yang Anda dapatkan memang sangat besar. Jadi, semakin besar keuntungan, makin besar resiko yang mungkin ditempuh.

Berikut adalah langkah tirakat yang harus Anda lakukan:

  1. Lakukan puasa selama 40 hari layaknya puasa di bulan ramadhan. Niatkanlah untuk mencari ridho dan pertolongan dari Yang Maha Kuasa. Selama berpuasa, Anda dilarang untuk mengonsumsi makanan bernyawa dan apapun yang keluar darinya, seperti susu atau telur. Puasa harus dimulai pada hari Rabu Wage.
  2. Di hari pertama puasa, tepatnya pada malam Jumat tengah malam (01.00), tulislah potongan surat QS. Al Qashash 22-24 yang kami lampirkan di bawah ini. Tulisan ini harus dipahat di atas kayu badam.
  3. Pada puasa hari kedua dan seterusnya hingga genap 40 hari, amalkan ayat tersebut sebanyak 100 kali seusai sholat fardhu. Sewaktu membaca, letakkan batang kayu badam tadi di depan Anda.
  4. Apabila Anda telah mampu melihat batang kayu badam bergerak sendiri, hal itu berarti ritual yang Anda lakukan sudah hampir berhasil.

“WA LAMMAA TAWAJJAHA TILQOO’A MADYANA QOOLA ASAA ROBBII AYYAHDIYANII SAWAA’AS SABIILI WA LAMMAA WARODA MAA’A MADYANA WAJADA ALAIHI UMMATAM MINANNAASI YASQUUNA WA WAJADA MIN DUUNIHIM RO’ATAINI TADZUUDAANI QOOLA MAA KHOTBUKUMAA QOOLATAA LAA NASQII HATTAA YUSDIRORRI’AA’U WA ABUUNAA SYAIKHUN KABIIRUN.
FASAQOO LAHUMAA TSUMMA TAWALLAAIL ADZILLI” (QS. Al Qashash 22-24)

Setelah melakukan amalan tersebut, lalu bagaimana kita bisa mengecek apakah ilmu lipat bumi sudah bisa dikuasai?

Cobalah untuk melakukan tes kecil-kecilan. Sekarang, berdirilah di kamar pribadi Anda sembari memegang batang kayu badam di tangan kanan. Pejamkan mata Anda dan bayangkan tempat yang akan Anda tuju.

Selanjutnya, bacalah ayat QS. Al Qashash 22-24. Sekarang, bergeraklah maju untuk mengambil beberapa langkah. Kemudian buka mata Anda kembali. Dengan ijin Tuhan, Anda akan sampai pada tujuan.

Namun, apabila Anda dapati masih di tempat yang sama, hal itu bukan berarti amalan yang kami bagikan tidak tepat. Melainkan, Anda kurang membulatkan tekad atau masih tersimpan niat negatif dan kurang ikhlas dalam menjalankan amalan dari ilmu melipat bumi ini. Wallahualam.

7,147 kali dilihat, 23 kali dilihat hari ini